FORM INFORMASI   |   KONTAK & LOKASI KAMPUS    
Kampus Beasiswa
STIE KASIH BANGSA
Beasiswa 100% s.d. Tamat Sarjana
 
 
 
 
MENGAPA PILIH KASIH BANGSA
PENDAFTARAN ONLINE
BEASISWA
ALUMNI
 
 
ARTIKEL DAN INSPIRASI
 
 
Dosen ITS Kemukakan Ragi Bisa Jadi Bahan Bakar Alternatif
Update : 25-10-2018 | View  21
Surabaya - Berkurangnya persediaan bahan bakar fosil dan harganya yang cenderung tidak stabil membuat banyak negara, termasuk Indonesia, terjebak dalam krisis bahan bakar. Situasi ini kemudian mendorong ditemukannya bahan bakar alternatif.

Gagasan tentang bahan bakar alternatif ini dikemukakan oleh dosen Teknik Kimia, Institut Teknologi 10 November (ITS) Siti Zullaikah, ST, MT, PhD. Menurutnya, ragi Lipomyces starkeyi bisa jadi jalan keluar dari permasalahan energi tersebut. Kok bisa?

Menurut dosen yang akrab disapa Zulle itu, ada banyak jenis energi alternatif yang ditawarkan untuk menghadapi krisis tersebut seperti tenaga matahari, angin dan air. Akan tetapi Zulle mengatakan tidak semua sumber energi tersebut mudah diterapkan pada alat transportasi.

Untuk itu ia mengajukan alternatif lain berupa biodiesel. Selain memiliki kemampuan yang sama, biodiesel juga mempunyai kelebihan yang ramah lingkungan.

"Salah satu energi alternatif yang sudah diproduksi secara komersial serta pemanfaatannya tidak perlu modifikasi mesin kendaraan adalah biodiesel," ungkap Zulle dalam siaran pers yang diterima detikcom, Kamis (25/10/2018).

Menurut Zulle, ada dua sumber pembuatan biodiesel, yaitu bahan baku yang dapat dikonsumsi (edible) dan bahan baku yang tidak dapat dikonsumsi (inedible). Kebanyakan industri sebenarnya telah memproduksi biodiesel dari bahan baku yang dapat dikonsumsi.

"Seperti pemerintah Indonesia yang memproduksi biodiesel dari minyak kelapa sawit, namun biaya produksi yang dapat mencapai 70 persen dari total biaya produksi menjadi masalah utama komersialisasi biodiesel tersebut," terangnya.

Untuk itu diperlukan pemanfaatan bahan baku nonkonsumsi dalam memproduksi biodiesel. Pilihan pun jatuh pada microbial oil (minyak yang dihasilkan oleh mikroba) yang dihasilkan ragi jenis oleaginous. 

Zulle sendiri mengaku telah meneliti ragi yang didapatkan dari Lipomyces starkeyi ini sejak tahun 2004.

Lipomyces starkeyi diketahui mempunyai kandungan minyak yang tinggi, yaitu mencapai 60 persen. Ia juga memiliki komposisi asam lemak yang sesuai untuk bahan baku biodiesel. Selain itu, mikroba ini mempunyai siklus produksi yang pendek dan tidak bergantung pada musim dan cuaca, serta mudah untuk dikembangbiakkan. 

"Minyak yang dihasilkan pun lebih mudah diekstraksi dibandingkan dengan minyak yang dihasilkan alga," bebernya.

Dijelaskan Zulle, rata-rata ragi ini mengakumulasi minyak dalam proses metabolismenya hingga 40 persen dari biomassanya. Namun dalam kondisi keterbatasan nutrisi, mereka dapat mengakumulasi minyak melebihi 70 persen dari biomassa. 

"Ragi oleaginous adalah mikroorganisme bersel satu (uniseluler), tanpa endotoksin, dan bisa direkayasa genetik serta cocok untuk fermentasi dalam skala besar," jelas doktor lulusan National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) ini.
Dari penelitian ini, Zulle berharap, Indonesia memiliki sistem produksi biomassa dan produk berbasis bio yang terintegrasi menggunakan konsep biorefinery melalui proses eksplorasi biomassa menjadi berbagai produk yang dapat dipasarkan, seperti energi.

Selain itu, menurutnya penggerak utama untuk pendirian biorefinery adalah pada aspek keberlanjutan (ketersediaan bahan baku). 

"Konsep ini sangat sesuai dengan negara kita, Indonesia, yang kaya akan berbagai macam biomassa, makroalga, mikroalga dan mikroorganisme," pungkasnya.  

sumber : detik.com 

 

 
ARTIKEL DAN INSPIRASI LAIN
 
     
Untitled Document
 
 
Untitled Document
Pengunjung Online : 1 Total Pengunjung : 58761
 
All Right Reserved © STIE Kasih Bangsa